Pikir Lagi Jika Dibuatkan SPT Palsu dengan Penghasilan Tinggi saat Apply Kartu Kredit

  • Sunday, June 25, 2017
  • By @penuliscabutan
  • 0 Comments

Kartu Kredit | Sumber : Pexels

Memiliki kartu kredit pasti menjadi dambaan setiap orang meski sering kali lebih banyak memberi mudarat daripada manfaat kalau memperlakukannya dengan sesuka hati. Namun, sayangnya nggak semua orang bisa memiliki kartu sakti tersebut.

Karena sebelum mendapatkannya, kita akan melewati berbagai seleksi dari tim analyst. Banyak dari mereka yang harus menelan pil pahit karena ditolak oleh bank penyedia jasa kartu kredit tersebut. Alternatifnya, orang-orang dapat menggunakan sistem kredit tanpa kartu kredit seperti Kredivo atau Home Credit.

Nah, ngomong-ngomong soal apply kartu kredit, kali ini gue mau sedikit sharing tentang pengalaman kurang mengenakan saat gue apply kartu kredit di suatu bank asal China. Sebetulnya, hal kurang mengenakan ini gue alami dengan si marketing, sih. Bukan dengan bank yang bersangkutan. Mungkin pengalaman gue ini bisa jadi masukan untuk Elo kalau mau apply kartu kredit.


Peristiwa itu terjadi setelah gue buka puasa bareng teman-teman kuliah di Central Park, Jakarta Barat pada 10 Juni 2017 lalu. Setelah jajan di Transmart, ada abang-abang menawarkan kartu kredit dari bank asal China. Gue tau ini kartu kredit bisa digunakan di luar negeri, makanya gue mau buat juga agar bisa digunakan jika diperlukan nanti.

Si marketing bilang kalau gue sebetulnya bisa dapet kartu Platinum dengan syarat harus menaikan slip gaji sampai 12 juta ke atas. Tapi, beban pertahun 700 ribu. Wah, berat banget. Akhirnya gue pilih yang Gold, karena yang Signature kita harus deposit dulu 1 juta. Lagipula, gue buat kartu kredit nggak butuh limit yang besar-besar juga. Ngeri khilaf.

Nah setelah proses applying itu selesai. Gue nggak kepikiran apa-apa lagi. Gue langsung pulang dengan hati yang biasa-biasa saja.

Hal rese terjadi di minggu selanjutnya.


Di hari Senin, gue mengajukan sip gaji ke bagian payroll HR. Tapi, berhubung THR mau turun jadi yang bersangkutan sibuk banget sehingga nggak bisa langsung selesai. Si marketing nanya di Whatsapp tentang slip gaji dan gue jelaskan kalau belum bisa hari itu karena HR lagi sibuk.

Selang sehari, si marketing ini kembali menghubungi. Nggak cuma di Whatsapp tapi juga telepon. Dia dengan seenaknya minta gue ketik sendiri slip gajinya. Hey, gue nggak punya cap kantor dan gue pun bukan admin. Mau curang gimana? Dari sini gue mulai merasa terganggu.

Di hari Rabu yang panas, si marketing berinisial Y ini kembali menelepon sampai 3 kali tapi nggak gue angkat karena gue pun lagi banyak kerjaan. Dan hari berikutnya, dia kembali menelepon berkali-kali tapi nggak gue angkat dan akhirnya gue putuskan untuk memblock nomor tersebut.

Di Whatsapp, gue dibikin kaget karena dia mengirip SPT palsu atas nama gue yang tinggal gue teruskan ke pihak bank. Kata temen-temen gue, marketing kartu kredit emang biasa banget ngelakuin hal kurang terpuji ini biar mereka bisa closing dengan hepi dan calon nasabah juga diterima permintaan kartu kreditnya.

Yang buat gue syok adalah…. Total pendapatan yang tertulis di sana sebesar 160 juta per tahun. Buseeeet! Kejar setoran banget! Si marketing bilang, katanya gue gak perlu kasih slip gaji. Cukup meneruskan SPT palsu yang telah dia buat. ENAK AJA!!! Kalau gue bego, mungkin gue nurut. Tapi sebelum hal itu terjadi, gue buru-buru tanya ke teman-teman di FB. Kebetulan beberapa di antaranya merupakan orang Bank. Sebelum kejadian ini, si marketing sudah minta tolong untuk menaikan gaji gue dari margin awal meski kalau ditotal-total juga nggak sampai 160 juta.

Emang wajar apa wanita 25 tahun level staff gajinya 160 juta per tahun? Waduh, kalau iya sih gue nggak akan bikin kartu kredit. Duit sendiri juga sudah memakmurkan hasrat untuk hedon.

Chat Whatsapp

Keuntungan yang gue dapat jika gue nurut dengan si marketing adalah gue bisa dapat kartu kredit dengan limit yang fantastis dan berbanding lurus dengan iuran tahunan yang aduhai. Padahal, dari awal gue udah bilang kalau gue hanya mau membuat kartu kredit level Gold.

Meski beberapa teman gue bilang itu wajar, karena gue akan diuntungkan dengan limit besar. Tapi, gue takut kalau SPT palsu ini akan berimbas kalau gue mau ambil KPR dan sejenisnya. Lalu, kalo Direktorat Jenderal Pajak lagi iseng, bisa aja gue kena. Terus, gue akan jadi santapan empuk bank-bank konvensional. It’s BIG NO NO…

Beberapa teman gue yang memang orang bank mengatakan kalau tindakan si marketing itu demi suksesnya klosingan mereka. Ada juga yang memang mengurus bagian kartu kredit mengatakan kalau jika ia menemukan marketing yang bertindak curang seperti ini, pasti akan dia marahin habis-habisan.

Lalu, temen SMP gue, Irene bilang, temannya ada yang nurut aja disuruh menggunakan SPT dengan penghasilan besar tersebut dan iurannya locknut besar sekali sekitar 750 ribu di Standard Chartered.

Nah, berikut gue lampirin komen-komen mereka :


Komen 1

Komen 2

Komen 3

Komen 4


(Baca juga : Gaji 3 Juta di Jakarta tetap Bisa Nabung)

Akhirnya, gue positif ngomel ke marketing yang bersangkutan dan bilang mundur aja kalau disuruh menggunakan SPT gila itu. Karena angkanya terlalu jauh. Hingga si marketing akhirnya meminta gue kirim slip gaji aja nggak apa-apa kalau nggak mau menggunakan SPT yang dia buatkan. Malamnya, gue kirim itu slip gaji. Seandainya ditolak pun gue gak masalah karena terlanjur ilfeel.

Pesan gue, jika Elo ditawari untuk berbuat curang dalam pembuatan Kartu Kredit mending nggak usah. Karena ini adalah awal mula dari permasalahan yang akan dihadapi kedepannya. Tapi, kalau nekat juga demi hasrat untuk konsumtif ya silakan. Kalo kata anak android mah DO WITH YOUR OWN RISK.

You Might Also Like

0 Komentar