Aksi Teror dan Makna Jihad yang Keblinger

  • Monday, May 28, 2018
  • By @penuliscabutan
  • 0 Comments


Ilustrasi Teroris | Pepnews.com

Agama akhir-akhir ini menjadi isyu yang sangat sensitif di Indonesia. Terutama setelah tragedi bom Surabaya awal Mei kemarin. Well, rasanya makin absurd aja tinggal di tengah orang-orang ‘mabuk’ agama di Indonesia.

Jujur, sebagai seorang Muslim saya pun malu melihat kelakuan mereka yang ngakunya Islam—tapi tidak mencermikan keislaman sama sekali.

Para Islamphobia semakin menilai Islam itu jelek. Orang bercadar semakin dicap negatif. Padahal, yang ngebom kemarin kan nggak bercadar, berjidat hitam, dan apalagi berbaju putih.

Pelaku Bom Bunuh Diri di 3 Gereja Surabaya

Gue sendiri, nggak bisa ngebayangin apa yang bakal terjadi beberapa tahun mendatang. Apa Indonesia akan musnah? Sekelumit pertanyaan menari-nari di dalam kepala. Kenapa ini semua bisa terjadi? Kenapa orang kita mudah sekali didoktrin dengan agama? Kenapa orang kita sebodoh ini? Kemana logika semua orang?

Para pengebom itu melakukan pembenaran kalau tindakan mereka adalah JIHAD. Padahal Jihad itu adalah berjuang dan bersungguh-sungguh menegakan syariat Islam. Bisa dibilang ini adalah perjuangan spiritual dalam diri atau untuk lingkungannya. Rasulullah SAW sendiri melaksanakan Jihad dengan berdakwah.

Istilahnya gini, kita salat lima waktu sehari tanpa bolong aja itungannya udah JIHAD terhadap diri sendiri. Itu yang paling simple. Lalu, ustaz-ustaz yang sering ceramah di masjid, TV, hingga YouTube juga mereka sudah berjihad untuk umatnya. Tapi beda ceritanya kalau ceramahnya menyinggung SARA dan Politik, ya. Jangan didengerin, mending walk out aja cari masjid yang lain.

Jihad jadi blunder di mata teroris. Bagi mereka ‘memusnahkan’ umat yang berbeda keyakinan adalah sebuah kewajiban demi menegakan syariat Islam. Aneh…

Padahal, dalam peraturan perang Nabi Muhammad SAW udah jelas kalau tindakan tersebut jauh bertentangan. Rasulullah memiliki aturan utama ketika berperang, yaitu:
  1. Jangan berkhianat
  2. Jangan berlebihan
  3. Tepat janji
  4. Jangan mencincang mayat
  5. JANGAN MEMBUNUH ANAK KECIL, ORANG TUA, DAN WANITA
  6. Jangan menebang dan membakar pohon
  7. Jangan menyembelih binatang kecuali untuk dimakan
  8. JANGAN MENGUSIK ORANG-ORANG AHLI KITAB YANG SEDANG BERIBADAH

Syarat-syarat tersebut tidak ditemukan dalam aturan para pelaku aksi teror. Mereka menyerang membabi-buta tanpa melihat siapa yang jadi korban. Padahal, prinsip perang Rasulullah SAW pun menjelaskan kalau kita tidak perlu berperang selama pihak eksternal tidak mengusik, menganggu, apalagi menyerang kita. Blunder, kan?

Seharusnya teroris itu bekerja saja di jalur GAZA, memperjuangkan Palestina jauh lebih mulia daripada ngebom rumah ibadah umat lain. Tapi ya namanya teroris, mana bisa mikir ke sana. Mereka kan memang ingin menciptakan kekacauan dengan doktrin absurd yang ditelan mentah-mentah.

Well, gue harap teror-teror yang terjadi di Indonesia nggak bertambah parah. Keadaan politik dan ekonomi Indonesia aja udah carut-marut, bonus teror lagi. Mending gue ganti kewarganegaraan aja sekalian.

Terlalu banyak kecemasan dan keresahan selama tinggal di sini.



You Might Also Like

0 Komentar