Toxic Relationship Tak Akan Membawa Bahagia, Melepaskan Pilihan Terbaik

  • Friday, May 10, 2019
  • By @penuliscabutan
  • 0 Comments

Pexels
Pada Desember tahun lalu, gue udah mendapatkan firasat kalau tahun 2019 ini akan menjadi titik balik perubahan hidup. Kenyataannya, memang benar itu adanya. Gue meninggalkan semuanya demi sebuah impian gila yang sangat besar.

Tahun lalu, gue berencana menikah di 2019 seperti yang sudah digambarkan oleh garis tangan gue sendiri. Gue akan terpaksa menikah, tanpa cinta. Wuup! Padahal selama ini orang-orang tahunya kalau gue sangat mencintai pasangan sampai gue rela menanti agar yang mulia mantan calon ibu mertua menerima gue.

Meski kenyataannya, gue memilih untuk melepas semuanya bulan Maret lalu. Padahal, gue udah tunangan. Cincin sudah tersemat manis di jari manis tangan kiri ini. Tapi, segenggam logika sudah menampar gue bolak-balik untuk sadar dan bangkit.

Gue mengalami intimidasi sejak awal bertemu mantan calon ibu mertua. Semua itu disampaikan oleh pasangan gue sendiri. Gue dikatain pendek lah, nggak sepadan lah, orang tua gue bisa naik haji karena punya banyak uang lah, dan pasangan gue harus cari cewek baru.

Awalnya, kami mau berjuang bersama karena pasangan gue pun ngebela gue habis-habisan di depan orang tuanya.

Tapi segalanya berubah ketika gue 'dikorbankan' saat acara lamaran dan pasangan gue nggak membela sedikit pun. Well, meski katanya dia diam karena takut batal. 

Siapa yang nggak terluka?

Pihak keluarga pasangan menuntut gue untuk minta maaf karena gue pernah menulis status yang menyinggung mama pasangan. Padahal gue begitu karena sudah 'disenggol' dari awal. 

Dikata-katai nggak sepadan, sampai ngejanjiin lamaran bulan November eh pas dateng taunya 'cuma silahturahmi'. Jakarta-Sawahlunto itu jauh, loh. Kami pergi pake uang, bukan daun.

Ketika lamaran di bulan Februari dan status FB gue disinggung, gue ngebela diri lah, "Ya saya minta maaf atas tindakan saya. Tapi, kan Tante yang mulai duluan dengan nggak terima saya karena saya cacat."

Dan apa kata mama pasangan saya, "Kamu itu makhluk ciptaan Allah, Chin. Mana mungkin tante menghina kamu. Kan sama aja tante menghina Allah. Mama gak pernah begitu, benarkan (sebut nama pasangan gue)?"

Pasangan gue cuma diam. Di saat gue memang butuh perlindungan, dia diam. OMG! Dan gue betul-betul dikorbankan hari itu.

Hati gue hancur berkeping-keping karena sikapnya. Rasa sayang gue yang dalam itu seperti terlempar dan terbakar ke neraka. Hilang. Ditambah lagi, dia menganggap gue berlebihan karena tersinggung diperlakukan seperti itu oleh keluarganya, well...


Pexels
Setelah lamaran, ribut-ribut masalah lamaran itu kegiring sampai ke teman-teman komunitas gue. Dia, yang saat itu masih menjadi pasangan gue memaki-maki gue dan menganggap gue nggak menghargai jerih payah dia yang sudah meyakinkan orang tuanya agar mau menerima gue. 

Well, emang gue harus apa? Ngejilat yang mulia mantan ibu mertua biar bisa menerima gue? Sedangkan selama ini perlakuan dia sangat buruk ke gue. Karena gue cacat dan dianggap gak bisa ngerjain kerjaan rumah tangga? Ya, nggak, lah. Gue masih punya akal sehat dan harga diri. Itu keluarga lu ya urusan lu, keluarga gue urusan gue.

Bahkan di depan teman-teman gue, pasangan gue menyumpahi gue mati dan keinginannya untuk bersama gue hanya 30 persen. Well...

Kalau sudah begini gimana?
"Ah itu cuma luapan emosi aja kok!"
Ngaco kamu ah! Yang ada gue makin hilang rasa lah!

Keadaan makin buruk ketika dia ngambek karena gue gak kasih kopi mawar kesukaan. Gue disuruh pulang sendiri dari MOI. Bahkan, helm gue mau ditaro di motor sebelah kalau gak gue ambil di motor. Gila apa? Sesepele itu loh! Iya itu sangat sepele ketimbang harga diri gue dan keluarga gue yang udah diinjek-injek oleh keluarganya.

Dari sana, gue langsung tersadar. Ini gak boleh diterusin. Pada garis tangan gue dijelaskan kalau gue akan mengalami kekacauan cinta dan gue akan tetap pilih bertahan demi keluarga.

Tapi, setelah apa yang terjadi sama gue bulan lalu, gue memilih untuk mundur. Hari Minggu, setelah kejadian gue disuruh pulang sendiri dari MOI, Dia mengancam putus, dan gue langsung oke tanpa nego apa pun.

Gue memilih melepaskan kegilaan ini. Gue terlalu berharga untuk terjebak dalam hubungan toxic bersama cowok cupu yang gak bisa ngejaga pasangannya sama sekali, tapi ngerasa benar dan tidak ingin disalahkan.

Ditambah lagi, gue memiliki alergi dengan hubungan toxic. Jika gue melihat sedikit saja racun dalam hubungan, maka shield pelindung gue bakal langsung aktif.


Pexels

Ya, gue mengakhiri hubungan yang sudah gue jalani selama 6 tahun dengan penuh cinta yang dinodai oleh kekacauan selama dua bulan terakhir setelah lamaran.

Semua teman yang tahu, menyanyangkan hubungan kami. Karena selama ini kami terlihat sangat bahagia dan baik-baik saja. Tidak jarang mereka menghibur, "Abis lamaran tuh biasa banyak ujian kayak gini. Ayo dong bertahan. Lo harus fight berdua."

Hanya saja, gue masih punya akal dan tidak termakan oleh omongan macam itu. Ujian sih ujian, cuma kalo rugi di gue, enak di dia sih, mending bubar aja. Masa gue harus ngalah lagi setelah apa yang udah dia lakuin ke gue?

Kalau hanya bermasalah dengan orang tua dia sedangkan dia mau ngejaga sih ya it's OK. Lah ini, ibu rese bonus anak arogan? Playing victim pula. Apa lagi yang mesti gue pertahanin? Ya nggak ada, lah!

Dan jujur, setelah putus gue ngerasa lega.

***

Sebulan berlalu. Gue menjalani kesibukan seperti biasa sebagai content writer di salah satu portal online. Hidup gue jauh lebih baik. Setiap malam gue belajar bahasa Inggris agar bisa lulus IELTS atau TOEIC. Gue memiliki mimpi besar yang ingin gue wujudkan dalam 3 tahun ke depan. 

Nikah? Haha, itu bukan prioritas gue lagi.

Secara rutin gue pun keluar masuk salon, luluran, maskeran, spa, dan melakukan banyak perawatan diri lainnya. Ada seseorang (dibilang seseorang juga gimana ya) yang selalu menyemangati gue agar bisa maju, lalu mengubah takdir. Dan, mungkin dialah salah satu yang spesial yang gue punya saat ini.

Jomblo nggak jomblo, hidup gue tetap sibuk. Setiap akhir pekan, gue menghabiskan waktu bersama teman-teman komunitas, pergi ke kafe, dan nongkrong sampai malam. 

Kadang kalau lagi ingin sendiri, gue pergi ke suatu tempat yang menenangkan, coffee shop misalnya. Duduk berjam-jam sambil main game atau sekadar ngobrol dengan barista-nya. 

Teman-teman yang semula menyayangkan pilihan gue mulai melihat diri gue yang perlahan bersinar. Kadang-kadang, gue harus menghalau beberapa laki-laki yang berusaha mendekat karena mereka bukan tipe gue sama sekali.

Meski single, gue nggak pernah sendirian. Jujur aja, gue jauh lebih bahagia saat ini. Gue yang dulu melankolis sekarang berubah menjadi seorang sanguinist Gue yang dulu INTJ sekarang berubah jadi ENTP. Gue yang dulu sering pasrah, sekarang jadi seorang pemberontak yang vokal.

Kekacauan kemarin cukup jadi pelajaran. Setidaknya gue harus lebih selektif memilih pasangan. Minimal harus tau bagaimana kelakuan orang tuanya.

We deserve to be happy.

If you trapped in toxic situation, just throw it to hell. Don't do stupid things such as wish he/she will be better someday. Don't waste your precious time.


Pexels

You Might Also Like

0 Komentar